CahayaJiwa

Sunday, January 14, 2007

semua perempuan berjilbab sama brengseknya!!!

“Semua perempuan berjilbab sama brengseknya!!”. Kalimat ini benar-benar pernah diucapkan oleh salah seorang pria yang berkecimpung dalam dunia akademis, di hadapan sekian banyak mahasiswanya, dalam suatu sesi perkuliahan. Nah, jika anda, pada saat itu, menjadi salah satu pendengarnya, apa kira-kira reaksi anda? Kesal? Marah? Tersinggung? Biasa saja? Atau setuju? Itu hak anda masing-masing. Tulisan ini dibuat bukan untuk menjustifikasi siapapun, bukan untuk menyindir sang pengucap kalimat, juga bukan untuk mempengaruhi pembaca agar menolak mentah-mentah kalimat tersebut -meskipun, sang penulis juga seorang perempuan berjilbab-. Penulis membuat tulisan ini semata-mata hanya ingin memberikan pandangan yang obyektif terhadap kalimat di atas.

Jika sejak kecil sampai saat ini, anda belum pernah bepergian ke luar negeri, apakah lantas anda akan mengatakan bahwa negara di dunia ini hanya Indonesia ? Jika anda sering kali mendengar tentang kasus-kasus kekerasan dalam rumah tangga, yang menimpa perempuan –sebagai pihak yang lemah- apakah lantas anda akan mengatakan bahwa semua laki-laki di dunia ini, tanpa terkecuali, adalah penindas?. Atau jika anda sedang melintas di sebuah jalan, kemudian anda melihat ada begitu banyak pengemis sedang menadahkan tangannya meminta-minta belas kasihan orang-orang, apakah lantas anda akan menilai, bahwa semua orang “miskin” itu pemalas dan hanya bisa meminta-minta? Rasanya kurang bijaksana jika itu yang anda lakukan, setidaknya itu menurut saya. Memang, dalam dunia akademis, dalam khazanah bahasa Indonesia , kita mengenal adanya majas pars pro toto, dimana sebagian bisa disamakan dengan keseluruhan, misal: “ sejak pagi, saya belum melihat batang hidungnya sama sekali”. Tentu yang dimaksud dalam kalimat di atas, bukanlah batang hidung secara harfiah, melainkan seseorang, ya seorang manusia secara utuh, dalam contoh ini, batang hidung dianggap mewakili keseluruhan manusia pemiliknya. Namun, apakah majas ini dapat dan tepat untuk diberlakukan dalam semua hal? Kalau menilik contoh kasus di atas, menurut saya, rasanya kurang tepat. Nah, hal inilah yang ingin saya sampaikan kepada anda. Jika anda melihat seorang perempuan berjilbab (atau berkerudung? karena ada perbedaan signifikan antara berjilbab – yang merupakan kewajiban bagi seorang muslimah, dan karenanya memiliki persyaratan khusus, seperti menutup dada, tidak ketat, tidak membentuk tubuh, dan tidak mencolok - dengan berkerudung, yang lebih merupakan sebuah tradisi ketimbang sebuah perintah agama) tengah melakukan tindakan, yang anda nilai tidak pantas dilakukan oleh seorang perempuan berjilbab, apakah lantas dengan serta merta anda akan mengatakan kepada seluruh perempuan berjilbab, bahwa mereka sebenarnya sama saja (sama brengseknya? red).

Penulis merasa ada beberapa hal yang dapat dikritisi, jika memang kejadiannya demikian. Pertama, klarifikasi seputar pakaian yang dipakai oleh perempuan tersebut, jilbab seperti yang dimaksudkan dalam Islam, yang penggunaannya tentu saja mengacu pada Al-Qur’an dan Hadits, sebagai sumber hukum Islam, ataukah hanya sebatas kerudung, yang biasanya, hanya menutup kepala, atau malah kadang tidak menutup kepala secara rapat, yang dipadukan dengan pakaian super ketat dan membentuk tubuh sang pemakai? Kenapa penulis merasa ini penting untuk diperjelas? Karena, jika seorang perempuan, muslimah khususnya, memutuskan untuk memakai jilbab, mengikuti seluruh aturan dalam Al-Qu’ran dan Hadits, tentunya ia juga menyadari konsekuensi dari pilihannya tersebut, di antaranya, menjaga sikap dan perilakunya untuk selalu bersesuaian dengan jilbab yang ia pakai. Lantas, bagaimana kalau ternyata perempuan yang dimaksudkan dalam hal ini, ternyata adalah benar-benar perempuan berjilbab, dengan uraian seperti yang saya sampaikan di atas? Rasanya kita perlu kembali lagi pada paparan di paragraf sebelumnya, pada contoh kasus yang saya coba sampaikan kepada anda. Ya, rasanya kurang bijaksana, jika hanya karena suatu hal, kita, saya dan anda lantas mengambil sebuah kesimpulan -secara tergesa-gesa- tanpa melihat dan mempertimbangkan faktor-faktor lainnya. Selama ini, yang ada dalam benak sebagian besar orang, perempuan berjilbab –hampir identik- dengan perempuan suci, tanpa cela, tanpa noda. Konsekuensinya, tentu saja, manakala ia melakukan sebuah kekhilafan, orang ramai-ramai memberikan penilaian negatif terhadapnya, tanpa melihat secara lebih jelas, bahwa perempuan berjilbab hanyalah manusia biasa, sama seperti manusia lainnya, sama seperti perempuan-perempuan lainnya. Suatu ketika, ia bisa saja lupa, bisa khilaf dan melakukan kesalahan layaknya manusia biasa. Dan pada saat itu, tentunya ia juga mengharapkan perlakuan yang sama seperti manusia lainnya, didekati, diajak bicara dan diingatkan tentang kekhilafannya. Sebuah perlakuan yang akan mengingatkan ia -dan memperjelas, tentu saja- bahwasanya ia hanyalah manusia biasa yang sedang berproses untuk menjadi lebih baik, yang kadang dalam proses itu, ia melakukan kesalahan dan kekeliruan, bukan justru sebuah tindakan penghakiman dan penyebarluasan kesalahannya kepada khalayak ramai.

Pada akhirnya, semua hal yang penulis rasa perlu untuk diuraikan dan dijelaskan telah dilakukan. Sekarang, semuanya penulis serahkan kembali kepada pendapat pembaca masing-masing. Apakah anda masih dan akan tetap beranggapan bahwa “semua perempuan berjilbab sama brengseknya”?.

Di penghujung malam, Jakarta, 19 Juli 2006



Saturday, September 09, 2006

Persiapan Menyambut Ramadhan

Persiapan menyambut Ramadhan terkait dengan persiapan seluruh dimensi diri seorang beriman, yaitu dimensi ruhani, dimensi pemikiran dan dimensi fisik.

1. Pada dimensi ruhani, seorang beriman menyadari bahwa momentum Ramadhan adalah momentum khusus di mana Allah swt menyediakan lebih banyak kesempatan baginya untuk melakukan pensucian jiwa (tazkiyyatun nafs). Puasa adalah ibadah yg istimewa. Persiapan ruhaniah ini adalah bagaimana kita bergembira menyambut bulan suci ini..

2. Pada dimensi pemikiran momentum Ramadhan adalah waktu-waktu di mana seorang beriman melakukan penyegaran kualitas berpikir mereka, sehingga mereka memandang kehidupan dunia dan akhirat secara proporsional. Bulan Ramadhan menjadi bulan penelaahan Quran secara intensif, contohnya pada bulan ramadhan banyak dilakukan kegiatan tilawah qur an spt tadarusan, penghataman qur an di sholat taraweh dan lain sebagainya. Dengan penelaahan Al Quran ini maka pada dimensi pemikiran kualitas berpikir seorang muslim akan meningkat.

3. Pada dimensi fisik secara medis seorang beriman berkesempatan menyegarkan kembali tubuh dengan ibadah puasa dan keteraturan pola makan serta ritme kehidupan secara umum. Dalam kaitannya persiapan fisik ini, dalam riwayat disebutkan bahwa Rosul banyak melakukan puasa pada bulan syaban ini.. Ini menunjukkan adanya persiapan fisik. Contoh lain tentang anjuran menjaga kesehatan fisik ini seperti larangan puasa wishol atau bersambung (siang malam tanpa berbuka), anjuran untuk menjaga makan sahur, keseimbangan untuk tidur siang sebagai persiapan sholat malam dan lain sebagainya .

sumber: kajian kalam online

Friday, August 18, 2006

arti seorang sahabat.........

“ku datang sahabat bagi jiwa, saat batin merintih, usah kau lara sendiri, masih ada asa tersisa. Letakkanlah tanganmu di atas bahuku, biar terbagi beban itu dan tegar dirimu….”


Pernah denger bait di atas? Yup, bener bgt. Bait2 di atas adalah sepenggal bait dlm lagu “usah kau lara sendiri” yg dinyanyiin ama Katon Bagaskara & Ruth Sahanaya. Sebuah lagu yg mencerminkan betapa pentingnya seorg sahabat sbg pelipur duka & lara. Sahabat? Ya, sahabat. Mencari seorg teman yg bisa diajak tertawa itu mudah, mencari musuh, jauh lebih mudah. Tetapi mencari seorg sahabat sejati yg selalu siap mendampingi dlm segala situasi dan kondisi, itu yg sulit. Menemukannya bagai menemukan sebuah mutiara yg tak ternilai harganya. Krn tak ternilai itu lah, maka mendapatkan seorg sahabat sejati menjadi sebuah upaya yg begitu sulit, tetapi bukan berarti itu tidak mungkin. Lantas bagaimana caranya? Ya, cara terbaik adalah selalu berusaha utk mjd sahabat sejati utk org2 di sekeliling kita, karena apa yg kita petik adalah buah dr apa yg kita tanam, bukan? Sulit? Jgn pesimis dulu, selama kita mau berusaha, akan selalu terbentang jalan utk kita. Untaian kalimat demi kalimat indah di bawah ini akan semakin membuat kita menyadari sosok sahabat itu sebenarnya, selamat membaca.


“Selebar apapun goresan luka yg dibuat oleh kesulitan, ada mahluk yg amat berguna dan amat dibutuhkan dlm pengalaman-pengalaman menyakitkan yg mengejutkan kita. Ia bernama sahabat. Tidak semua sahabat fasih memberikan nasehat. Tetapi sebenarnya hanya dgn kesediaannya utk mendengar, sinar mata yg berisi empati, kesediaannya utk menjaga rahasia, sahabat menjadi permata berlian yg amat berguna dlm keadaan-keadaan ini.


Seorang sahabat tdk harus org yg berada di dlm level setara dgn hidup apalagi gaya hidup kita. Seorang sahabat bisa hadir dr lapisan org yg mungkin berada di bawah kita. Seorang sahabat bisa datang dr hanya seorang biasa, yg mungkin mempunyai pengalaman lebih banyak dr kita. Seorang sahabat bisa ada dr orang yg sederhana hidupnya tapi mempunyai empati dan kekuatan jiwa karena hubungannya dgn Yang Maha Kuasa. Seorang sahabat, bahkan bisa kita cari dr orang2, siapapun mereka yg bisa kita petik pelajaran berharga hanya dgn melihat sikap dan perilakunya menjalani hidup.


Sahabat adalah hadiah paling berharga yg bisa kita berikan pd diri kita sendiri.
Secara lebih khusus ketika kita ditimpa kesulitan yg menggunung. Sehingga patut direnungkan, kalau kita perlu menabung perhatian, empati dan cinta buat para sahabat. Cukuplah hadits Rasulullah SAW, bahwa seorang mukmin itu adalah cermin bagi saudaranya yg lain. Cermin adalah tempat kita mematut dan menilai diri. Tempat kita bisa menyampaikan apa adanya ttg diri kita dan kita bisa mengambil seutuhnya petunjuk ttg apa yg harus kita rubah dr diri kita. Seperti itulah cermin. Seperti itulah saudara mukmin. Seperti itulah sahabat” (tarbawi)

masa lalu dlm kehidupan kita

Sepotong kenangan masa lalu hadir dalam benak kita. Ya, kita yg bergelimang dosa, kita yg hanya bisa menyusahkan orang lain, kita yg terhanyut oleh arus pergaulan, kita yg selalu membuat ibunda menangis sedih, atau kita yg lainnya. Sebegitu kelamkah masa lalu kita? Sebegitu hitamkah hari-hari kita? Lantas, bagaimana kita menyikapinya?

Masa lalu..ya masa lalu..setiap kita pasti memiliki masa lalu, hitam atau putih, baik atau buruk, gelap atau terang. Semuanya adalah salah satu bagian yg sempat mengisi lembaran hari-hari kita. Tak perlu kita robek dan kita campakkan ke tempat sampah, hanya karena kita malu. Malu karena hari ini kita lebih buruk, atau malu karena masa itu kita tersesat begitu jauh. Sekelam apapun masa lalu kita, ia tetap memiliki fungsi dan makna. Tanpa masa lalu, rasanya sulit bagi kita untuk bisa menata masa depan. Ibarat sebuah mobil yg sedang berjalan di jalan raya. Mobil tersebut dilengkapi dengan 2 buah kaca spion. Tahukah kita apa gunanya? Tentu, untuk melihat ke belakang sesekali. Pernahkah terfikir oleh kita, bagaimana jadinya kalau sebuah mobil tidak dilengkapi dengan kaca spion?. Seperti itu pula masa lalu untuk kita, sesekali kita perlu melihat ke belakang, sebagai sebuah acuan untuk kemudian menyongsong hari esok dengan lebih baik. Tapi juga tidak mungkin kalau kita terus-menerus melihat ke belakang bukan? Karena kalau itu yg dilakukan, tentu sang mobil akan sulit bergerak maju.

Karenanya, bagi kita yg pernah memiliki lembaran hitam, jangan hanya menyesali diri, tenggelam dalam lautan duka dan sesal tanpa batas. Begitu juga bagi kita yg pernah memiliki masa-masa indah, jangan hanya terhanyut oleh nostalgia masa lalu. Semuanya harus kita sikapi dengan bijak. Biarlah lembaran itu tetap pada tempatnya, menghias buku catatan hari-hari kita. Yang sekarang harus kita lakukan adalah bangun dari mimpi-mimpi panjang kita, menumbuhkan keyakinan bahwa kita pasti bisa berubah jika kita memiliki keinginan yg kuat untuk berubah. Lantas bertekad untuk merenda hari esok dan masa depan yg cerah, menyongsong terbitnya fajar dengan sebuah senyum keyakinan, bahwa mulai hari ini, kita akan berubah, kita akan memulainya…


Thanks for all of my friends in chat, you gave me inspiration to write this….

Jakarta, 2005

Saat Tuhan Menciptakan Para Ibu

Ketika itu, Tuhan telah bekerja enam masa lamanya. Kini, giliran diciptakan para ibu. Seorang malaikat menghampiri Tuhan dan berkata lembut: “Tuhan, banyak nian waktu yg Tuhan habiskan utk menciptakan ibu ini?”

Dan Tuhan pun menjawab: “Tidakkah kamu lihat perincian yg hrs dikerjakan? Ibu ini hrs waterproof, tp bukan dr plastik. Hrs terdiri dr 180 bagian yg lentur, lemar dan tdk cepat lelah. Ia hrs bisa hidup dr sedikit teh kental dan makanan sekedarnya. Memiliki kuping yg lebar utk menampung keluhan. Memiliki ciuman yg dpt menyembuhkan kaki yg keseleo. Lidah yg manis utk merekatkan hati yg patah dan enam pasang tangan.”

Malaikat menggeleng-gelengkan kepalanya. “Enam pasang tangan?? Ck..ck..ck..”

“Tentu saja bukan tangan yg merepotkanku, melainkan tangan yg melayani sana-sini, mengatur segalanya mjd baik.” Balas Tuhan. “Sepasang tangan pertama diangkatnya utk memohon kpd-Ku. Dipintanya keselamatan anak-anaknya, jg kesehatan, kesejahteraan dan kebahagiaan mereka. Sepasang yg kedua dipakainya utk menggendong, mengelus dan membelai. Untuk menunjukkan cintanya melalui sentuhan. Yang ketiga Kubuat lebih kuat. Untuk memasak, mencuci dan melayani kebutuhan anggota rumahnya. Sepasang yg keempat Kulengkapi dgn kulit anti jijik. Karena tangan itu dipakainya utk mengurusi muntah dan segala kotoran si anak. Sepasang tangan kelima digunakan utk mengurut dadanya. Untuk meluaskan lagi kelapangan hatinya menerima kesalahan dan kebandelan sang anak. Ini penting agar tdk mudah keluar kutuk dr mulutnya. Karena tiap pintanya adalah kewajiban yg Kubebankan atas diriKu. Sepasang yg terakhir, dan ini dipakainya jka terpaksa utk memukul atau menjewer kuping sang anak yg membandel. Tapi lagi-lagi dgn cinta, krn tujuannya tak lain sekedar kesadaran anaknya yg malas belajar atau demi kesehatan anaknya yg enggan makan.”

Malaikat manggut-manggut saja.

“Juga tiga pasang mata yg hrs dimiliki para ibu,”tambah Tuhan lagi.

“Bagaimana modelnya?” malaikat semakin heran. Tuhan melanjutkan, sepasang mata yg dpt menembus pintu yg tertutup rapat dan bertanya: “Apa yg sdg kau lakukan di dlm situ?” padahal sepasang mata itu sdh mengetahui jawabannya. Sepasang mata yg kedua sebaiknya diletakkan di belakang kepalanya, sehingga ia bisa melihat ke belakang tanpa hrs menoleh. Dan pasang mata ketiga utk menatap lembut seorg anak yg mengakui kekeliruannya. Mata itu hrs bisa bicara: “Saya mengerti dan saya sayang kamu”. Meski tdk diucapkan sepatah katapun.

Malaikat masih mendengarkan dgn sangat tekun saat Tuhan melanjutkan kembali.

“Tahukah kau, darah ibu itu bisa mjd susu yg bergizi. Liurnya mjd antiseptic luka. Elusannya jd terapi dan ucapannya jd obat penenang.”

“Ajaib!” jawab malaikat. Kemudian malaikat membolak-balik contoh ibu dgn perlahan “Terlalu lunak,” katanya memberi komentar.

“Tapi kuat!’ kata Tuhan bersemangat. “Tak akan kau bayangkan betapa banyak yg bisa ia tanggung, pikul dan derita. Kepayahannya telah mulai ketika Kutumpangkan detak kehidupan dlm perutnya. Deritanya memberat lagi ketika sebuah kepala mungil mendesak ingin keluar. Ia merintih kesakitan, tp sedetik tersenyum. “Tak mengapa, ini demi buah hatiku,” cetusnya lewat elusan lembut pertama pd kulit merah sang bayi. Aku menuntut satu pilihan nyawa pd beberapa proses kelahiran, maka ibu yg beberapa itu serentak berkata, “Biarlah aku yg mjd tumbal dan anakku hidup dan menikmati indahnya dunia.” Begitu perasaan keibuannya Kuciptakan scr kodrat. Ia pasti selalu mendahulukan anaknya. Tp telah kupahamkan org-org di sekelilingnya, bahwa ibu adalah kehidupan. Menjaga ibu berarti menjaga kehidupan. Maka ibulah yg diselamatkan. Dan Aku tdk menjadikan kesabaran atas kesakitan dan kesedihannya sia-sia di sisi-Ku. Anaknya adalah simpanan yg akan melayaninya di surga. Bila Aku menghendaki lain, maka itu semata-mata kerahiman-Ku ingin menghadiahkan ganjaran syahid atas pengorbanannya.

“Istimewa sekali makhluk yg Kau cipta ini, Tuhan”

“Ibu adalah reservoir kasih-Ku di muka bumi. Ia adalah sumber limpahan kasih sayang yg tak akan putus sepanjang masa kehidupannya. Kecintaannya adalah kecintaan-Ku. Murkanya adalah murka-Ku. Pengabdian padanya adalah ibadah terafdhal di sisi-Ku. Mulia org yg memuliakannya. Terhina org yg menghinakannya. Surga dan neraka seorg anak ada di telapak kakinya.”

“Apakah ia dpt berpikir?” Tanya malaikat lagi.

“Ia bukan saja dpt berpikir, tp jg dpt memberi gagasan, ide dan berkompromi.” Kata sang Pencipta.

Akhirnya malaikat menyentuh sesuatu di pipi. “Eh, ada kebocoran di sini.”

“Itu bukan kebocoran,” kata Tuhan. “Itu adalah air mata...air mata kesenangan, air mata kesedihan, air mata kekecewaan, air mata kesakitan, air mata kesepian, air mata kebanggaan, air mata...air mata...”

“Tuhan memang ahlinya...” malaikat berkata pelan.


Ibu adalah perempuan yg begitu sempurna. Kasih sayangnya membuat kita tumbuh dewasa. Keikhlasannya mengandung kita selama 9 bulan adalah sebuah ibadah yg takaran plusnya tdk bisa dibeli oleh kefanaan dunia. Belum lagi perjuangannya dalam melahirkan, dimana suatu erangan panjang kelahiran adalah detak jantung bunda, yg bisa saja-jika Allah berkehendak-terhenti. “Dan Kami perintahkan kepada manusia berbuat baik kepada ibu bapaknya, ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yg bertambah-tambah...” demikian perintah Allah di surat Luqman ayat 14. banyak org menggambarkan bahwa melahirkan adalah pertarungan hidup dan mati. Dan begitu si bayi keluar, ada tugas panjang siap menanti, memberi kasih sayang dan perhatian hingga si bayi tumbuh mjd dewasa.

Begitu panjang penjabaran jihad seorg perempuan demi kelangsungan hidup manusia di muka bumi. Betapa besar pengorbanannya. Wajar saja bila semua itu dibayar mahal dgn ketentuan bahwa surga di bawah telapak kaki ibu. Bahkan, ketika Rasulullah ditanya siapa yg hrs diutamakan dalam penghormatan, beliau tiga kali berturut-turut mengatakan “ibumu”.

Dan bunda...telah menjadi muara kebaikan dari segala perjalanan panjang ibadah di kefanaan...

NB: terlepas dr apakah kisah ini benar atau tidak, kisah ini telah mengajarkan kpd kita banyak hal. Semoga kita bisa memetik hikmahnya.