semua perempuan berjilbab sama brengseknya!!!
“Semua perempuan berjilbab sama brengseknya!!”. Kalimat ini benar-benar pernah diucapkan oleh salah seorang pria yang berkecimpung dalam dunia akademis, di hadapan sekian banyak mahasiswanya, dalam suatu sesi perkuliahan. Nah, jika anda, pada saat itu, menjadi salah satu pendengarnya, apa kira-kira reaksi anda? Kesal? Marah? Tersinggung? Biasa saja? Atau setuju? Itu hak anda masing-masing. Tulisan ini dibuat bukan untuk menjustifikasi siapapun, bukan untuk menyindir sang pengucap kalimat, juga bukan untuk mempengaruhi pembaca agar menolak mentah-mentah kalimat tersebut -meskipun, sang penulis juga seorang perempuan berjilbab-. Penulis membuat tulisan ini semata-mata hanya ingin memberikan pandangan yang obyektif terhadap kalimat di atas.
Jika sejak kecil sampai saat ini, anda belum pernah bepergian ke luar negeri, apakah lantas anda akan mengatakan bahwa negara di dunia ini hanya Indonesia ? Jika anda sering kali mendengar tentang kasus-kasus kekerasan dalam rumah tangga, yang menimpa perempuan –sebagai pihak yang lemah- apakah lantas anda akan mengatakan bahwa semua laki-laki di dunia ini, tanpa terkecuali, adalah penindas?. Atau jika anda sedang melintas di sebuah jalan, kemudian anda melihat ada begitu banyak pengemis sedang menadahkan tangannya meminta-minta belas kasihan orang-orang, apakah lantas anda akan menilai, bahwa semua orang “miskin” itu pemalas dan hanya bisa meminta-minta? Rasanya kurang bijaksana jika itu yang anda lakukan, setidaknya itu menurut saya. Memang, dalam dunia akademis, dalam khazanah bahasa Indonesia , kita mengenal adanya majas pars pro toto, dimana sebagian bisa disamakan dengan keseluruhan, misal: “ sejak pagi, saya belum melihat batang hidungnya sama sekali”. Tentu yang dimaksud dalam kalimat di atas, bukanlah batang hidung secara harfiah, melainkan seseorang, ya seorang manusia secara utuh, dalam contoh ini, batang hidung dianggap mewakili keseluruhan manusia pemiliknya. Namun, apakah majas ini dapat dan tepat untuk diberlakukan dalam semua hal? Kalau menilik contoh kasus di atas, menurut saya, rasanya kurang tepat. Nah, hal inilah yang ingin saya sampaikan kepada anda. Jika anda melihat seorang perempuan berjilbab (atau berkerudung? karena ada perbedaan signifikan antara berjilbab – yang merupakan kewajiban bagi seorang muslimah, dan karenanya memiliki persyaratan khusus, seperti menutup dada, tidak ketat, tidak membentuk tubuh, dan tidak mencolok - dengan berkerudung, yang lebih merupakan sebuah tradisi ketimbang sebuah perintah agama) tengah melakukan tindakan, yang anda nilai tidak pantas dilakukan oleh seorang perempuan berjilbab, apakah lantas dengan serta merta anda akan mengatakan kepada seluruh perempuan berjilbab, bahwa mereka sebenarnya sama saja (sama brengseknya? red).
Penulis merasa ada beberapa hal yang dapat dikritisi, jika memang kejadiannya demikian. Pertama, klarifikasi seputar pakaian yang dipakai oleh perempuan tersebut, jilbab seperti yang dimaksudkan dalam Islam, yang penggunaannya tentu saja mengacu pada Al-Qur’an dan Hadits, sebagai sumber hukum Islam, ataukah hanya sebatas kerudung, yang biasanya, hanya menutup kepala, atau malah kadang tidak menutup kepala secara rapat, yang dipadukan dengan pakaian super ketat dan membentuk tubuh sang pemakai? Kenapa penulis merasa ini penting untuk diperjelas? Karena, jika seorang perempuan, muslimah khususnya, memutuskan untuk memakai jilbab, mengikuti seluruh aturan dalam Al-Qu’ran dan Hadits, tentunya ia juga menyadari konsekuensi dari pilihannya tersebut, di antaranya, menjaga sikap dan perilakunya untuk selalu bersesuaian dengan jilbab yang ia pakai. Lantas, bagaimana kalau ternyata perempuan yang dimaksudkan dalam hal ini, ternyata adalah benar-benar perempuan berjilbab, dengan uraian seperti yang saya sampaikan di atas? Rasanya kita perlu kembali lagi pada paparan di paragraf sebelumnya, pada contoh kasus yang saya coba sampaikan kepada anda. Ya, rasanya kurang bijaksana, jika hanya karena suatu hal, kita, saya dan anda lantas mengambil sebuah kesimpulan -secara tergesa-gesa- tanpa melihat dan mempertimbangkan faktor-faktor lainnya. Selama ini, yang ada dalam benak sebagian besar orang, perempuan berjilbab –hampir identik- dengan perempuan suci, tanpa cela, tanpa noda. Konsekuensinya, tentu saja, manakala ia melakukan sebuah kekhilafan, orang ramai-ramai memberikan penilaian negatif terhadapnya, tanpa melihat secara lebih jelas, bahwa perempuan berjilbab hanyalah manusia biasa, sama seperti manusia lainnya, sama seperti perempuan-perempuan lainnya. Suatu ketika, ia bisa saja lupa, bisa khilaf dan melakukan kesalahan layaknya manusia biasa. Dan pada saat itu, tentunya ia juga mengharapkan perlakuan yang sama seperti manusia lainnya, didekati, diajak bicara dan diingatkan tentang kekhilafannya. Sebuah perlakuan yang akan mengingatkan ia -dan memperjelas, tentu saja- bahwasanya ia hanyalah manusia biasa yang sedang berproses untuk menjadi lebih baik, yang kadang dalam proses itu, ia melakukan kesalahan dan kekeliruan, bukan justru sebuah tindakan penghakiman dan penyebarluasan kesalahannya kepada khalayak ramai.
Pada akhirnya, semua hal yang penulis rasa perlu untuk diuraikan dan dijelaskan telah dilakukan. Sekarang, semuanya penulis serahkan kembali kepada pendapat pembaca masing-masing. Apakah anda masih dan akan tetap beranggapan bahwa “semua perempuan berjilbab sama brengseknya”?.
Di penghujung malam, Jakarta, 19 Juli 2006

